News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Membaca Tanda-tanda Kematian Lewat Meditasi Khapalika

Membaca Tanda-tanda Kematian Lewat Meditasi Khapalika


KAKILIMO.NEWS ■ Meditasi yang dilakukan Budhakecapi di setra (kuburan) merupakan gambaran pencapaian spiritual tertinggi bagi seorang dukun.

Lewat meditasi Khapalika, Bhoda Kecapi mendapatkan pencerahan tentang dunia pengobatan dan pencapaian spiritual dari alam semesta. Inilah yang membuat dirinya arif dan bijaksana dalam menempuh kehidupan sebagai seorang pengusada (ahli pengobatan). Tidak hanya mengetahui penyakit dan obatnya, tetapi juga ciri-ciri apakah pasien bisa diobati atau tidak, termasuk tanda-tanda kematian.

Kemampuan membaca kandungan zat dari tumbuh-tumbuhan (farmakologi) dan benda-benda di sekitarnya termasuk kondisi tubuh seseorang, merupakan keahlian yang harus dicapai seorang pengusada. Pencapaian inilah yang diajarkan Mpu Kuturan yang dituangkan dalam lontar Taru Premana (tanaman obat). Inilah sesungguhnya yang harus dikuasai bagi seorang dukun.

Bagi seorang calon dukun di Bali atau disebut calon balian, harus memahami apa yang disebut Genta Pinara Pitu, Tapakin Kuntul Angelayang, dan aksara-aksara suci. Jika tidak, ia akan menjadi balian tanpa arah. Sebab seorang dukun harus tahu membaca, apakah seorang pasien bisa disembuhkan atau diobati, atau mungkin ajal akan segera menjemputnya sehingga tidak boleh diobati. Inilah yang harus dikuasai seorang dukun sebagai hasil dari pencapaian spiritual dari proses pembelajaran. Salah satu bentuk lelaku untuk mencapai hal itu adalah dengan melaksanakan meditasi Khapalika.

Khapalika merupakan sebuah istilah yang bermakna tempat dan tujuan terakhir pencarian Tuhan. Istilah ini merupakan penggalan kata Khea yang berarti kesadaran dan Khalika yang bermakna kuburan. Jadi Khapalika artinya mencari kesadaran diri melalui meditasi di tengah kuburan.

Khapalika adalah salah satu bentuk meditasi di antara sekian banyak ragam meditasi yang berkembang. Namun meditasi ini merupakan bagian tertinggi dari bentuk meditasi, dilihat dari pencapaiannya. Sebab dilihat dari istilahnya “Khapalik” , kata tersebut bermakna tempat dan tujuan terakhir dari pencarian Tuhan.

Dari rangkaian kisah Bhoda Kecapi yang ditulis dalam lontar usada Bhoda Kecapi, Kalimosada, Usada Sari, maupun Ratuning Usada, teknik meditasi inilah yang digunakan Mpu Kuturan untuk mendapatkan petunjuk tentang obat (Taru Premana) dan teknik pengobatan.

Selain sebagai pandita, ahli agama, bangunan dan strategi pemerintahan, Mpu Kuturan juga seorang balian (dukun) sakti. Namun dalam perjalanannya menyembuhkan orang sakit, dia pernah gagal.

Atas kegagalannya itu, dia meminta petunjuk kepada Tuhan. Salah satu lelaku yang ditempuh adalah meditasi Khapalika. Dengan cara ini, Mpu Kuturan diberi anugerah pengetahuan tentang nama-nama tanaman yang berkhasiat untuk obat, cara mendiagnosa penyakit dan membaca tanda-tanda kematian.

Pengetahuan ini kemudian disarikan dalam beberapa tulisan seperti Taru Premana, Bhoda Kecapi, Kalimosada-Kalimosadi, Usada Sari, dan Ratuning Usada.

Namun jangan berharap menemukan istilah meditasi dalam naskah-naskah kuna tersebut karena pengertian meditasi yang dimaksud lebih dekat pada makna kata Samadhi (semadi).
Pengertian meditasi kadangkala juga disamakan dengan tapa, brata, yoga dan semadi. Sebagai contoh, ketika tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan meminta petunjuk para dewa, dikatakan sedang melakukan tapa, brata, yoga dan semadi.

Mungkin istilah meditasi bukan merupakan khasanah bahasa pada zaman itu, tetapi dari tingkatan istilah tersebut (tapa, brata, yoga, dan semadi), semadi yang bermakna meditasi merupakan tingkatan tertinggi karena untuk mencapai semadi terlebih dahulu melakukan tapa, brata dan yoga.

Meditasi Khapalika memang berbeda dengan bentuk meditasi lainnya. Kalau meditasi lainnya lebih menitik-beratkan pada pengertian diam, duduk tenang tanpa gerak untuk mencapai keheningan dan ketenangan serta pencerahan, meditasi khapalik dilakukan dengan gerakan tertentu.

Meditasi khapalika dibedakan atas dua bagian yaitu Awidya Tantra dan Widya Tantra. Awidya Tantra mengutamakan jalan sakti melalui lelaku di kuburan, sedangkan Widya Tantra mengutamakan kesadaran diri untuk mencapai Tuhan. Dalam pencarian kesadaran tertinggi oleh Bhoda Kecapi, dilakukan lewat jalan Awidya Tantra karena dilakukan di atas tempat pembakaran jenasah di tengah kuburan.

Menurut seorang yogi, Prajasphati, untuk mencapai hasil yang diharapkan, meditasi khapalika dilakukan pada hari yang tepat, yaitu tengah malam bertepatan dengan bulan mati (Tilem). Sebelum meditasi, terlebih dahulu mengitari tempat pembakaran jenasah sambil menarikan tarian dengan posisi kaki diangkat satu-satu secara bergantian (mendengkleng).
Tarian ini sering diidentikkan dengan gerakan orang menjadi leak (ngelekas), tetapi sesungguhnya tarian yang disebut Tandawa ini merupakan gabungan secara sistematik dari gita, vadya, dan mudra yang diciptakan Siwa dalam konsep Siwa Nata Raja, yaitu Siwa dalam keadaan transedental melakukan gerakan tertentu.

Setelah itu, dilanjutkan dengan kirtanam atau mengumandangkan lagu-lagu atau nyanyian untuk memuja Tuhan. Bagian terakhir dari rangkaian prosesi yang merupakan bagian paling puncak adalah duduk di tengah-tengah tempat pembakaran jenasah, berkontemplasi dan  meditasi. Proses ini disebut dengan Dhyeya. Bagi penekun ilmu leak, proses ini berakhir dengan perubahan wujud yang terjadi pada diri pelaku atau disebut dengan ngelekas.

Namun bagi penekun meditasi, proses ini akan menghasilkan efek sakti seperti mengeluarkan sinar mulai dari cakra muladara hingga sahasra, kemudian mencapai kesadaran tertinggi untuk menerima wahyu atau wangsit dari  alam semesta seperti halnya Bhoda Kecapi.

Pada tingkatan inilah seseorang kerap terpengaruh oleh ego, ambisi dan kemabukan sehingga sakti ini dipakai untuk mencapai perubahan wujud menjadi leak. Jadi sesungguhnya, orang yang mencapai sakti untuk tujuan menjadi dukun dan orang yang belajar ngeleak dengan melakukan ritual di tempat pembakaran jenasah (pemuwunan) di tengah kuburan adalah orang yang melakukan meditasi khapalika. Hanya disiplin ilmu yang dipelajari berbeda, apakah Widya Tanta atau Awidya Tantra.



Membaca Kematian

Bagi Bhoda Kecapi, lelaku ini ditempuh karena kegagalannya dalam melaksanakan  pengobatan. Dengan teknik ini, Bhoda Kecapi menemukan pencerahan. Dia mendapat anugerah Dewi Durga dalam bidang pengobatan.

Sementara Dewi Laksmi (sakti Wisnu) memberinya anugerah spiritual, dan Dewi Saraswati sebagai sakti Dewa Brahma memberinya anugerah tentang moksa (penyatuan diri dengan Tuhan). Dengan anugerah kesaktian ini, Bhoda Kecapi paham tentang bahan obat, proses penyakit dan jalan kematian bagi seorang pasien.

Konon, Bhoda Kecapi dapat berbicara dengan tumbuh-tumbuhan sehingga tahu zat-zat yang terkandung di dalamnya (semacam ilmu farmakologi modern) untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Hasil komunikasinya ini kemudian disarikan dalam lontar Taru Pramana. Ia juga tahu membaca tanda-tanda apakah pasien bisa sembuh atau ajal akan menjemputnya sehingga ada pantangan-pantangan baginya untuk mengobati pasien yang sudah mendekati ajalnya.

Inilah yang kemudian menjadi panduan para dukun di Bali dalam melaksanakan tugasnya. Seorang dukun pantang memberikan obat dan mantra apabila tanda-tanda kematian sudah mendekati pasien. Tanda-tanda tersebut dapat dilihat dari keringat yang dikeluarkan. Apabila orang sakit mengeluarkan keringat deras dari kedua telinganya dan keringatnya lengket, itu pertanda bahwa ajal segera menjemputnya. Karena itu, pantang diberi obat.

Bila ubun-ubunnya keluar keringat dan asap tipis, dalam tempo tujuh hari si sakit akan mati. Demikian juga bila orang yang sakit keras mukanya tampak miring dan mulutnya menganga, pertanda ajal segera menjemputnya.

Kalau kening orang sakit sudah tampak gurem tidak bercahaya dan si sakit merasa mendengar bunyi berdebar-bedar, maka pantang diberi obat karena dalam hitungan hari, akan mati.

Petuah Bhoda Kecapi kepada dua orang muridnya bernama Kalimosada dan Kalimosadi merupakan pengetahuan bagi seorang dukun, apakah si sakit bisa disembuhkan atau tidak. Cara yang diajarkan adalah mendeteksi lewat telinganya. Masukkan telunjuk ke kedua telinga si sakit. Apabila terasa sepi dan tidak bertenaga, si sakit pantang diberi obat karena hidupnya tidak akan lama lagi. Kalau teliganya ada getaran, barulah diberi obat.

Petuah paling penting oleh Bhoda Kecapi ditujukan untuk para dukun adalah hanya di dalam hati kita bisa merasakan suka dan duka karena di sanalah kekuasaan Dhurga yang berasal dari kata Dhur (suara) dan Gha (jiwa) bersemayam. Dan sesungguhnya Dhurga merupakan suara sang jiwa, roh dan atma sebagai inti dari kehidupan.

Kitab  sastra Mahottama menyebutkan bahwa Tuhan berada teramat dekat di dalam jantung kesadaran manusia. Dan sesungguhnya pencarian kesadaran bermula dari rasa kedekatan hati. Itulah yang menjadi hakikat dari meditasi khapalika, yang untuk membuat manusia sadar akan keberadaan diri sang jiwa dan kematian.[BK]


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar