News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

(2) JALAN DATUK BANGSO Mana Mungkin PKB , Mendapat Tempat ?

(2) JALAN DATUK BANGSO Mana Mungkin PKB , Mendapat Tempat ?

 



Catatan: Pinto Janir (Sastrawan/Wartawan

 

            Febby Datuk Bangso adalah bagian dari riwayat yang tertulis. Ia mewariskan sejarah pribadi untuk dicatat di masa yang manis.  

     Sejarah mencatat, Febby Datuk Bangso adalah ketua partai termuda untuk wilayah propinsi di Sumatera Barat. Ia ketua DPW PKB Sumbar dalam usia muda dalam pikiran arif dan bijaksana.

     Sebelumnya, di Sumbar partai ini nyaris tiap sebentar ganti “ketua”. Pengamat politik mencatat, PKB tak akan mungkin mendapat tempat di hati umat Sumatera Barat. Partai ini di Minangkabau, dianggap partai yang tak akan mungkin meraih hati masyarakat di ranah tacinto.

       Mengapa?

     Karena ada anggapan bahwa PKB adalah partai orang “seberang”. Tidak pas untuk masyarakat Minangkabau yang menjadi rumah gadang bagi kehidupan maju dan berkembangnya ormas  “muhammadiyah”. Sebagian besar umat Sumaterabarat berafiliasi ke Muhammadiyah. Hanya sebagian kecil yang berafiliasi ke NU (Nahdlatul Ulama).

     PKB merupakan partai yang lahir pada era reformasi.  Tepatnya, tanggal 23 Juli 1998 atau 29 Rabiul Awal 1419 H.  PKB lahir sebuah partai politik yang berideologi nasionalis religius . Ia didirikan oleh para kiai dari Nahdatul Ulama (NU) atas usulan dari warga NU di seluruh pelosok Indonesia, agar PBNU membentuk Partai Politik.

     Sumatera Barat identik dengan Muhammadiyah. Wajar saja bila sebagian besar pengamat menganggap, PKB mana mungkin bisa berkembang di ranah Minang.

     Sebelum PKB “dirawat” oleh Febby, partainya masih dianggap partai yang tak akan mungkin mendapat tempat. Sori, dianggap “kecil”.


teks poto : Febby Datuk Bangso bersama para tuo/guru silat dan para pendekar muda  Minangkabau

       Dianggap kecil dan diremehkan begitu, apakah Febby berkecil hati?

     Tidak. Datuk Bangso adalah sosok yang berpantang menyerah. Karena ia yakin, jalan pikiran dan niat kebajikan adalah energi. Ia percaya, dengan kesungguhan dan kerja keras, tak ada yang tak mungkin. Ia yakin, bahwa hasil tak pernah menghianati proses.Proses tak pernah mengecewakan hasil.

        Febby Datuk Bangso berjuang habis. Bahkan habis-habisan. Segala tenaga,pikiran dan doa ia curahkan untuk membesarkan PKB dalam niat menjadikan PKB rumah gadang rang Minang.


     Mendengar ini, saya menyimak; betapa banyak suara yang menguap meremehkan “ide
ologi” Datuk Bangso.

     Bukan Datuk Bangso namanya kalau mudah menyerah. Kalau mudah patah dan dipatahkan. Febby itu simbol “kekuatan” PKB di ranah Minang.

    Febby mulai menaut-nautkan pikiran. Mulai menyulam-nyulam benang merah antara PKB dan Minangkabau. PKB dalam pergerakan tradisi dan religi dan Minangkabau dalam spirit “Adat Banasndi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah”.

     Agaknya Febby tak pernah berhenti mencari harmonisasi dan persesuaian “rasa” antara orang Minangkabau dengan PKB-nya di Sumatera Barat. Ia terus berupaya mencari benang merah antara PKB dan orang Minang dengan membaca sejarah. Datuk Bangso memang pribadi yang mengasah cakrawala dengan membaca. Ia membaca buku takambang menjadi pengetahuan dan bijaksana  serta membaca alam takambang menjadi kearifan.

     Dan...

 

            Tersebutlah nama KH. Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) nan salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dan juga pendiri Gerakan Pemuda Ansor. Mars Ya lal wathon yang saat ini banyak dikenal orang adalah  buah karya beliau.

 

KH. Abdul Wahab Hasbullah sosok ulama yang multi talenta. Ia sangat cerdas . Pemikiranya jauh melampui kebanyakan orang. Ia mengukir sejarah gemilang. Ia  peletak prinsip-prinsip agama dan kehidupan sebagai kunci dan pegangan hidup bermasyarakat dan bernegara. Ia nyaris berperan di semua lini kehidupan, politik, budaya, agama nan menjadikannya sebagai kyai multikultural yang menjadi tokoh simbol perjuangan anak bangsa.

 

Bersama KH Hasyim Asy’ari,  ia menghimpun tokoh pesantren dan keduanya mendirikan Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada tahun 1926. Kiai Wahab juga berperan membentuk Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

 

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kiai Wahab bersama KH.Hasyim Asy’ari dari Jombang dan Kiai Abbas dari Cirebon merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan.

 

Pada usia 27 tahun KH. Wahab meneruskan pendidikannya ke Makkah. Di kota suci itu beliau berguru kepada ulama Masjidil Haram diantaranya Syaikh Machfudz At-tarmasi, KH. Muhtarom Banyumas, Syekh Ahmad Chotib Al-Minangkabawi, KH. Bakir Yogyakarta, KH. Asya’ri Bawean, Syekh Said al-Yamani dan Syekh Umar Bajened.

 

Begitu juga dengan KH Hasyim Asy’ari. Salah seorang gurunya di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1916). Alminangkabawi adalah orang Indonesia pertama yang menjadi imam sekaligus khatib di Masjidil Haram.

 

Eureka...!

 

“Eureka...eureka...eureka !” sorak eureka yang pernah diucapkan Archimedes itu seolah diulang kembali oleh Febby Datuk Bangso.

 

“ Aku telah menemukannya!”

 

Ya.Yang ditemukan Febby Datuk bangso adalah benang merah antara NU yang melahirkan PKB dengan PKB dan Minangkabau.

 

Apa itu?

 


Teks poto: Febby Datuk Bangso bersama sejumlah ulama Minangkabau

Ternyata dua  pendiri NU itu, salah seorang gurunya adalah putra asli Minangkabau; yakni Syekh Ahmad Chotib Al-Minangkabawi.

 

Febby Datuk Bangso membenang-merahkan antara NU-PKB dan Minangkabau.

Febby menciptakan kredo pikiran: “ Kalau ingin berminangkabau, berPKB-lah!”.

(Bersambung)

 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar