News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

4) NARASI HEY DI BILIK PIKIRAN : Dari Perusahaan Inggris ke Swiss Hingga Dirikan Perusahaan Sendiri

4) NARASI HEY DI BILIK PIKIRAN : Dari Perusahaan Inggris ke Swiss Hingga Dirikan Perusahaan Sendiri

 

                                           HEY (H Erwin Yunaz)

                                            


Catatan: Pinto Janir (Sastrawan)

Hei...

Hey...!

Dengan tepat waktu, HEY (Haji Erwin Yunaz) menamatkan Akademi Grafika. Lalu ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Manajemen Kosgoro Jakarta hingga meraih gelar S1. Kemudian HEY   menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Dr. Soetomo di Surabaya.

Ketekunan dan kesungguhan HEY yang membuat ia menguasai ilmu praktis grafika. Ditambah dengan  bakat seni dan ketajaman intuisinya. Ilmu grafisnya mantap. Pengalaman berbisnisnya teruji. Ilmu manajemen dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang bagus menghantarkan ke HEY kepada kehidupan yang terang !

Itu pula yang membuat jalan karir HEY di dunia grafis  terbuka dengan sangat lapang. Cita-citanya adalah masuk ke pusat industri percetakan kelas dunia.  Pada tahun 1998 sebuah perusahaan besar asal Inggris PT Courthauld Packaging Indonesia yang terletak di Surabaya mengajaknya untuk bergabung. Bekerja di perusahaan asing itu tidak gampang. Sulit. Kecuali, kalau kita benar-benar dianggap pakar dan menguasai keahlian di bidang yang dibutuhkan. 

Ketika ajakan bergabung datang dari PT Courthauld Packaging Indonesia, padahal di saat itu HEY sudah merasa nyaman dan senang melanjutkan perusahaan sang kakak. Namun pada akhirnya, walau berat hati, ia tinggalkan perusahaan sang kakak, ia terima ‘undangan’ bergabung dari perusahaan yang berinduk perusahaan di Inggris.  

Di awal bergabung, ia diberi kepercayaan menjabat Print Manager. Dua tahun menjadi Print Manager, HEY dipromosikan menjadi Commercial Manager. Ia menjadi ujung tombak perusahaan. Berkali-kali perusahaan ini mengirim HEY ke  Inggris untuk mengikuti berbagai program dan seminar. Kemampuan “international” Hey kian terasah. 

HEY itu bila bekerja sungguh-sungguh dan konsentrasi dalam segala ketulusan hati. Itu pula yang membuat  lapang jalan karir HEY. Keahliannya sebagai seorang yang ahli grafika makin menjalar di antero perusahaan-perusahaan kelas dunia di bidang percetakan. Sehingga salah satu percetakan besar asal Swiss di Surabaya, PT Edward Keller Indonesia sangat tertarik mengajak HEY bergabung. Ini terjadi pada tahun 2002. 

HEY   bertimbang pikiran. Pada akhirnya ia memutuskan menerima ajakan perusahaan dari Swiss ini. Jabatan HEY adalah Branch Manager Surabaya. 

Pada  perusahaan sebelumnya HEY mampu menunjukkan kemampuannya. Ia berhasil meningkatkan kinerja perusahaan dan membangun komunikasi yang lebih baik dengan kantor pusat dan cabang-cabang lain. Perusahaan memberikan  kompensasi dan penghargaan atas prestasinya itu dengan  memberikan kesempatan kepada HEY untuk meningkatan keahlian di bidang packaging technology dengan mengikuti program belajar di Ohio, Amerika Serikat selama beberapa bulan. Hasil dari program pelatihan itu HEY menjadi seorang ahli teknologi Flexography yang hingga saat ini masih sangat sedikit jumlahnya.

Sekembalinya ke Indonesia, karier HEY  bagai tak terhambat. HEY  menjadi andalan perusahannya untuk melakukan pemasaran, negosiasi presentasi produk di berbagai negara di Asia dan Eropa. Hampir setiap bulan HEY bepergian ke luar negeri. Dia menikmati gaya hidup sebagai seorang professional kelas dunia. Akhirnya HEY bisa mewujudkan mimpinya ketika kecil dulu untuk sukses menjadi eksekutif di perusahaan multinasional.

Pergaulan HEY pergaulan international.Jaringannya mendunia. Cakrawalanya bagai hamparan luas sebentang dunia. Gagah, pintar, cerdas, taat dan berpitih pula. Apa juga lagi? 

Sekalipun karirnya rancak, gajinya banyak, tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya. HEY lelaki dari Minangkabau. Itu doktrin dirinya. Ia orang Minang. Lelaki Minangkabau adalah lelaki yang penuh dengan kemerdekaan pikiran. Ia ingin memerdekakan pikiran dan kehidupannya. Bukankah, selagi kita masih bekerja di perusahaan lain, ada kemerdekaan yang tidak mutlak. Waktunya terikat dengan kontrak kerja dan jadual yang rapat. Ia ‘diremot’ oleh managemen. 

HEY ingin “memerdekakan” waktu supaya ia bisa bergerak lebih leluasa dan maksimal mewujudkan impian di ruang kemanfaatan bagi orang banyak. 

Lazimnya lelaki Minangkabau, enggan berlama-lama jadi anak buah orang. HEY ingin mendirikan perusahaan sendiri. Dengan berat hati, ia mundur dari perusahaan kelas dunia itu. Ia lepaskan segala jabatan dan fasilitas “mewah” perusahaan. 

Pada tahun 2008 HEY mendirikan PT PT Flexoeye Sinergi Indonesia yang bergerak di bidang mesin percetakan. Dengan cepat perusahaan milik HEY ini  menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan terkemuka di dunia. Sejalan dengan waktu, perusahaan HEY berkembang sesuai harapannya. 


(Bersambung)




Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar